PEMIMPIN SAAT INI

Dalam masyarakat yang egaliter dan demokratis seperti sekarang ini, peluang untuk menjadi pemimpin terbuka sedemikian lebar untuk semua orang. Semua memiliki hak yang sama di depan konstitusi. Semua memiliki kebebasan untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat, semuanya bebas untuk memilih dan dipilih. Demokrasi sangat menjunjung tinggi kebebasan.
Dalam pandangan Aristoteles, kebebasan demokrasi akan menjamin kesamaan hak bagi semua orang, oleh karena itu prinsip yang sangat diagungkan dalam demokrasi yaitu, “semua orang mempunyai hak untuk memerintah dan bukan untuk diperintah”. Hak untuk memerintah itu harus diperoleh secara bergilir oleh semua orang tanpa mengindahkan kondisi ekonomi dan intelektual seseorang. Tak ada bedanya hak seorang profesor dan seorang tukang becak dalam menjadi pemimpin. Tak ada bedanya pula hak seorang kiai yang alim dan bermoral dengan tukang jamu yang suka ngibul atau preman begundal yang suka banting kartu domino dan mabuk-mabukan di pangkalan ojek. Semua punya hak yang sama, yang penting banyak konstituen yang memilihnya. janggal memang, tapi itulah realita demokrasi.
Lebih lanjut Aristoteles mengatakan kalau para penganut demokrasi memuja kebebasan yang keliru dan merusak keutuhan negara. Bahkan dia menempatkannya sebagai bentuk pemerintahan yang buruk dan menyimpang.

Pemimpin produk demokrasi.

Dalam masalah kemimpinan, Ordway Tead mengatakan, “ Leadership is actifity influencing people to coorporate toward some goal which the come to dessirable”. Kepemimpinan itu merupakan sebuah aktifitas mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan. Artinya kepemimpinan itu mensyaratkan adanya pemimpin sebagai subyek dan orang lain sebagai objek. Kepemimpinan juga mensyaratkan adanya sebuah tujuan yang hendak di capai dalam proses kepemimpinan itu sendiri, peran pemimpin sangat besar dalam hal ini. Oleh karena itu seorang pemimpin harus mampunyai kapabilitas dan kredibilitas yang tinggi. Demikian juga dalam perjalanan sebuah bangsa, peran seorang pemimpin sangatlah penting. Pemimpinlah ujung tombak tercapainya tujuan bangsa, yaitu kesejahteraan seluruh rakyatnya. Permasalahannya mampukah demokrasi melahirkan pemimpin yang seperti itu?
Sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan memungkinkan setiap orang untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin baik dalam level legislatif maupun eksekutif. Mereka yang punya ambisi harus saling berkompetisi untuk mendapatkan kursi melalui proses pemilu. Pemilu sendiri sendiri memakan biaya yang tidak sedikit yang harus ditenggung penyelenggara maupun peserta. Pemerintah sebagai penyelenggara harus mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk mengawal proses ini dari awal sampai akhir agar sukses. Sedangkan bagi peserta pemilu sendiri, mereka harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mensosialisikan partai maupun calegnya.
Biaya untuk melenggang ke kursi dewan terkadang jauh lebih besar daripada gaji yang diperoleh. Kalau yang dipakai logika ‘cost and profit’, tentu saja mereka rugi. Dalam posisi ini kalau mentalitas para pemimpin kita ‘mentalitas pedagang’ secara otomatis mereka ingin balik modal, kalau perlu harus untung, walaupun harus menggasak uang rakyat. Dan itu sudah terbukti saat ini. Berapa banyak anggota legislatif dan pejabat stuktural kita dari berbagai tingkat yang harus meringkuk di buih karena korupsi? Itu baru yang terbukti. Belum lagi mereka yang belum tersentuh tangan hukum. Karena penegak hukumnnya juga banyak yang korup.
Demokrasi juga memungkinkan orang yang tidak punya kapabilitas dan kredibilitas untuk menjadi pemimpin, yang penting mereka punya duit. Untuk mempengaruhi pemilih bebagai cara dilakukan. Kalau perlu main uang. Oleh karena itu mereka yang kapabel dan punya integritas yang tinggi terkadang hanya bisa gigit jari karena kurang modal. Malang nian. Kalau orang-orang yang demikian sudah menjadi pimpinan maka tunggulah saja kehancuran. Perselingkuhan antara, ambisi, ketamakan dan kekuasaan akan melahirkan kerusakan yang dahsyat.

Rasulullah dan kepemimpinan.

Tak dapat dipungkiri lagi kalau Rasulullah Muhammad SAW merupakan pemimpin paling hebat yang patut dicontoh. Dalam dirinya terhimpun berbagai keutamaan sebagai seorang anak manusia sekaligus sebagAI seorang pemimpin. Hanya dalam kurun waktu 23 tahun, atas ijin Allah beliau telah mampu melakukan revolusi besar-besaran mengeluarkan umat manusia dari berbagai penyimpangan. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang terbaik. Semua itu tidak terlepas dari sifatnya sebagai seorang rasul yang memiliki empat sifat yaitu siddiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Itulah kunci kesuksesan yang harus dicontoh pemimpin manapun didunia ini agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Kepemimpinan itu sendiri sebenarnya amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu tidak selayaknya bagi seorang muslim berambisi untuk mengejarnya, apalagi menjadikannya sebagai ghayah dalam hidup. Diriwayatkan dari Abu Musa r.a.
Aku menemui nabi saw bersama dengan dua orang lelaki dari bapak saudaraku. Salah seorang warisku itu berkata; “wahai rasulullah, berilah aku jawatan untuk mengurus (memimpin) sebahagian dari perkara yang diberikan oleh Allah kepadamu. Begitu juga warisku seorang lagi mengajukan permohonan yang sama, lalu rasulullah bersabda; “demi allah aku tidak akan memberikan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya. Apatah lagi kepada orang yang tamak kepadanya. (H.R. Bukhori Muslim).
Hali ini tentu saja berbeda dengan kondisi saat ini, dimana orang sudah begitu berambisi dan tamak untuk menjadi pemimpin. Dan ketika sudah jadi pemimpinpun banyak yang menggunakannya untu kepentingan pribadi dan berperilaku khianat dan arogan. Semua itu tentu bertolak dengan kepemipinan rasul yang lemah lembut tapi tegas, adil, dan mengutamakan kepentingan ummatnya diatas kepentingan pribadinya. Wallahu ‘alam bishowab.